Why HDR?
by priotography on Jun.20, 2010, under sharing, Tips & Trick
Mencoba menjawab pertanyaan sederhana : Kenapa harus HDR? Mana yg perlu di-HDR-kan? Mana yg tidak? Artikel ini mencoba membuka dan berdiskusi lebih dalam, sebenarnya utk apa sih HDR itu… Apa itu HDR dsbnya..
Photo 1 : HDR from 6-7 different exposures, F16, Sylt 2005
Why HDR?
by Prio Adhi Setiawan
Dynamic Range, adalah term dari range pencahayaan (brightness) level dari sebuah imaji (image). Secara teoritis, dynamic range adalah sebuah ratio perbandingan antara maximum dan minimum dari sebuah pengukuran, yg dalam dunia fotografi, pencahayaan.
Sering kita menjumpai scene/pemandangan yg mempunyai dynamic range yg sangat lebar (perbedaan antara intensitas cahaya, shadow dan highlight) dan tidak seperti apa yg kita dapatkan di camera kita.
Mata manusia, yg begitu sempurna diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, mampu melihat/menangkap dan mengukur perbedaan index cahaya dynamic range hingga 14 exposures values (atau EV, atau orang menyebutnya f-stops) dimana teknologi kamera digital DSLR sekarang hanya mampu sampai 8 EV di dalam single shot.
(plus dgn teknologi D-Lighting di Nikon, atau teknology extended Dynamic Range yg dimiliki S5pro Fuji, atau pengembangan teknologi di CMOS dengan semi-conductor fabrication dengan meningkatkan ukuran photodiodes di Canon 5DmII nya) … yg semua itu diharapkan bisa mendapatkan Dynamic Range yg lebar, sehingga apa yg tertangkap di mata kita tertangkap pula dengan camera DSLR kita.
Nah, metode HDR (High Dynamic Range) dan DRI (Dynamic Range Increase) adalah metode post process utk “menambal” lack of dynamic range yg tertangkap kamera.
Dari paragraph di atas, tersirat jawaban dari pertanyaan Kapan perlu HDR, yaitu ketika kita menemui kondisi dynamic range yg sangat lebar sehingga tidak bisa tertangkap oleh kamera tidak seindah dan selebar ketika mata kita memandangnya.
Lalu bagaimana caranya meng-HDR-kan sebuah foto?
Banyak sekali cara, dan saking mudahnya kita membuat sebuah foto HDR, kebanyakan orang tempting utk membuat sebuah photo HDR in all situation, in every ocassion… since it’s so easy and the results can be absolutely amazing.
Di sini saya ndak ingin menjelaskan lebih detail bagaimana mengHDR kan sebuah foto.
Ada beberapa cara :
1. HDR dari beberapa photo dengan exposures yg berbeda :
a. Bracketing-ON;
b. take exposure yg berbeda (tapi one single aperture) misalnya : F16 di 20 sec, 10 sec, 5 sec, dstnya (atau +2EV, +1EV,0,-1EV, -2EV)
c. using tripod
d. post processing dengan photoshop (File > Automate > Merge to HDR) atau menggunakan software photomatix
2. HDR dari 1 single shot RAW files (pseudo HDR)
a. saat post process, memanfaatkan RAW files dengan mengubah exposure lalu save as jpeg (variasi exposure seperti metode 1 misalnya)
b. seperti step 1d
3. HDR dari 1 photo JPEG
walau tidak direkomendasikan, tapi bisa juga membuat HDR dari 1 single photo JPEG
a. buat berbagai exposure yg berbeda dari 1 single file JPEG menggunakan photoshop (Image > Adjustments > Exposures) dengan variasi seperti metode 1, 2 di atas.
b. seperti step 1d

Photo 2 : pseudo HDR dari 1 file RAW, Munich 2009
Jika diperhatikan, semua metode di atas mempunyai kemiripan, yaitu membuat foto dengan berbagai exposure yg berbeda menjadi 1 photo HDR (apapun caranya, dari motret langsung in camera, dari 1 file RAW, dari 1 file JPEG). Langkah pertama dan bahkan terpenting dari proses HDR ini adalah bagian utk mendapatkan foto yg bisa mewakili range yg hilang dari lebar nya dynamic range tsb.
Letak pemilihan exposure yg tepat tsb lah yg mbisa membedakan 1 foto HDR yg satu lebih baik daripada foto HDR yg lainnya, yaitu kita harus tepat mecari keterwakilan “range yg hilang” tsb.
Dan inti dari HDR itu lah yg kadang dilupakan. Banyak orang berpikir, hanya sekedar kita mendapatkan 4 sampe 6 foto dengan exposure yg berbeda, maka kita bisa membuat foto2 HDR
Beberapa tips dan triks photo HDR :
1. gunakan tripod dan shutter release utk take multiple images
2. gunakan RAW utk mendapatkan kualitas foto yg lebih baik dan images depth
3. gunakan ISO terendah, utk menghindari noise.
4. hati2 terhadap angin saat long exposure, karena bergeser sedikit saja subjek akan mempengaruhi hasil photo HDR
5. motret dengan berbagai exposure (atau +2EV, +1EV,0,-1EV, -2EV) dengan 1 nilai aperture (bisa menggunakan aperture priority, dan mengkompensasi manualy, atau bisa juga dengan bracketing)
6. membuat multiple photo dengan cepat, utk menghindari movements yg terjadi sehingga pada akhirnya membuat munculnya “ghost”
7. perhatikan histogram saat mengkompensasi foto utk HDR, jika photo banyak dominan shadow, usahakan sequence photo banyak di daerah highlight begitu juga sebaliknya, sehingga sequence photo tsb akan “mengisi” detail photo yg di range brightness tsb.
Apakah foto HDR cocok utk semua kondisi?
Well, HDR could not be applied in any scene… it’s NOT a rule, but it’s an experience… Sejak HDR techniques biasanya mengexpand mid-tones contrast, memadukan daerah shadow dengan sequence highlight dan sebaliknya, foto HDR bukan lah foto yg tepat utk mendapatkan skintone supermodel, yg akan memblow up kan detail di shadow serta mengangkat midtones…
“Pengangkatan detail” itu jugalah yg membuat foto2 dengan HDR teknik kadang menghasilkan “ghost” dan “hallow” di perbatasan antara daerah yg dominan shadow dan daerah yg dominan highlight, sehingga terliat unreal, dan unnatural.
Contoh hallow, sangat mudah kita bisa di liat dari contoh foto no 2, perhatikan batas bagian antara bangunan gerbang tsb dengan langit, yg menandakan perbatasan antara daerah yg “cenderung” shadow dan “cenderung” highlight, photomatix akan mengkalibrasikan kekurangan cahaya yg ditrasnfer dari foto yg mempunyai exposure yg menghasilkan highlight di daerah tsb, dan juga sebaliknya yg kelebihan di kalibrasi dengan daerah shadow yg kuat di bagian tsb.
Hasilnya yg sangat mudah dikenali, akan muncul hallow seperti bayangan gelap (kadang putih) di sekeliling batas-batas tsb.
Beberapa metode lanjutan “seperti” HDR yaitu DRI (Dynamic Range Increase), yaitu mengangkat daerah shadow di bagian2 tertentu dengan “fill in” cahaya melalui exposure yg berbeda.. contoh seperti photo no 3 ini.

Photo 3 : 6-7 frames stitching together and at the end DRI techniques was applied, Altona Fischmarkt-Hamburg 2009
Photo di atas merupakan gabungan dari stitching panorama dan mengaplikasikan teknik DRI. Sejatinya bagian kanan di gedung Fischmarkt (tempat orang jual lelang ikan) dari jembatan kehilangan detail di daerah shadow, sebagian besar gelap karena matahari yg terbenam di sisi kiri, plus metering saya yg lebih mengutamakan daerah tengah yg begitu gelap.
Dengan mengambil sekali lagi pada posisi yg sama, dengan exposure yg berbeda utk mengangkat detail di shadow di daerah tsb, lalu dilakukan semi-HDR dengan meng-composite dan memasking daerah tertentu saja yg ingin di recover detail nya.
So, dengan berbagai metode, dan teknik yg dipaparkan di atas, kita akan lebih bijak dalam memilih post processing apa yg perlu dilakukan.
Tapi yg terpenting, jangan memikirkan post processing apa yg perlu dilakukan sebelum memotret atau saat mengintip di viewfinder.
Berpikirlah utk menghindari post processing dan just take a best shot -IN- camera dengan memikirkan baik2 metering dan kompensasi, komposisi serta angle juga aspek2 dasar fotografi.
Karena perbedaan dinamic range yg tinggi, jika kita pinter me-spotmeter dan memilih kompensasi, kita akan mendapatkan image yg secara pencahayaan yg lebih baik. Atau bahkan tak membutuhkan HDR lagi.
Jika kita tidak hati2, HDR teknik juga akan mengubah sebuah foto menjadi overblown, oversaturated, noisy, atau getting worse…

Photo 4 : stitching from 4 images all together, no HDR… just spot meter to the darkness area, -2EV. Nikon D70s + Nikon 18-70mm
So, memilah2 kondisi dan situasi yg bagaiamana HDR perlu diterapkan. Jangan sampe tergiur akan kemudahan dan kesimplean utk mengaplikasikan sbuah foto HDR sehingga tujuan foto tsb yg awalnya ingin menyampaikan pesan dan menyampaikan keindahan, justru hilang dari nilai foto itu sendiri…
–
salam,
Prio Adhi Setiawan
www.priotography.com
Terima kasih sudah berkunjung! Silahkan berdiskusi dengan meninggalkan komentar, dan dapatkan berita terbaru dengan berlangganan