Panorama Photography (part 2)

Lanjutan dari part 1 nya yg ada di sini
yuk kita lanjutkan diskusi foto-memfoto kita….

Panorama Photography (2)
by Prio Adhi Setiawan
2791524558_827d4b375b_z.jpg?zz=1
Figure 2.1 Speicherstadt panorama, Hamburg. Stitching from 6-7 frames
Setelah artikel sebelumnya sedikit nyerempet apa itu panorama dan beberapa karakter dengan gear2 tertentu serta angle of view dengan focal length tertentu, kali ini kita ngebahas dikit ttg gimana how to nya.
Kita mulai dari beberapa point dan keyword di edisi sebelumnya yg di sini
1. Angle of View
- Di photo panorama yg diciptakan dengan stiching beberapa frame photo, photographer menentukan seberapa wide angle of view yg mo diciptakan yg berkaitan erat dengan akan se berapa banyak akan masuk dalam frame.
- Ciptakan angle of view yg mampu attracting people to view more in detail.
- Mengangkat sebuah POI dalam frame panorama, makin banyak hal2 yg menarik yg bisa diikutsertakan, contoh dalam photo di atas, POI utama yg diletakan ditengah adalah sebuah bangunan tua yg diframing dengan kerangka jembatan yg diambil full wide dengan menggabungkan beberapa photo format horizontal (6-7 frames)
- Based on my experience, tergantung juga dengan software yg dipakai, menggabungkan photo dengan menjaga garis2 horizontal dan vertical menjadi garis2 lurus, bisa dilakukan hingga 115°, ada beberapa software yg menawarkan features utk kontrol lines tetep lurus sehingga angle of view bisa dipertahankan max hingga 150°, lebih dari itu maka garis2 horizontal dan vertical akan membentuk garis2 lengkung..
6409_101305159142_693899142_2087671_8222428_n.jpg
Figure 2.2 Panorama of Königsplatz (Glyptothek), München-Germany, 7-8 frames.
Perhatikan pemilihan angle dan komposisi, seberapa wide yg ingin di masukan dalam frame, dan seberapa banyak objek yg akan ikut dalam frame
2. Focal Length
Pemilihan focal length utk pengambilan foto panorama (yg akan di stitching) juga penting, walau bukan yg utama. Hindari memakai wide lens, dimana dengan memakai wide lens, image akan didominasi area yg luas di langit dan di bumi yg mungkin out of our interest (or it is).
Alasan lain dengan menggunakan wide lens, akan membuat efek distorsi yg sangat significant yg nantinya -at the end of the day- akan sulit saat post processing.
Pakai di range 24-35mm focal length would be enough, dan cukup jika ingin membuat foto panorama cityscape (high rise building, or monumen yg tinggi) atau landscape
15959_194838239142_693899142_3047143_6927346_n.jpg
Figure 2.3 panorama di Dublin, 5 frames using 24mm



3. Overlapping dan How many Images?
Seberapa banyak bidang yg overlapping, dan berapa banyak frame yg mo di eksekusi utk menghasilkan foto panorama yg baik, menjadi sebuah pertanyaan yg sudah dijawab di point no 1, seberapa wide panorama ingin di ciptakan, seberapa banyak objek yg akan terlibat.
Pengalaman pribadi, saya tidak terlalu memusingkan dua pertanyaan tsb (overlapping dan berapa images) serta hitung2annya. Yang menjadi base dalam kerangka berpikir saya hanya saya ingin menangkap scene ini dan idea, plan serta seperti apa frame itu akan tercipta memandu saya utk menentukan angle dan seberapa banyak frames tsb akan diambil.
Teoritis, dalam bukunya Arnaud Frich based on pilihan focal length, orientation format (horizontal atau vertical) dan angle biasanya dibutuhkan overlapping sekitar 20%, dengan kata lain satu image akan terpakai view nya 60 % (20% terpakai sbelah kiri dan 20% kanan)
TIPS :
- make sure important area (POI) dalam frame ada di tengah2 salah satu frame photo. Hindari overlapping di daerah penting dimana POI itu berada.
- to make sure, potret 2 kali di area tsb, dengan 2 format yg berbeda. in case dibutuhkan saat post process, apalagi saat moment yg gak mungkin utk diulangi seperti saat blue hour atau golden hour.

5609_109920794142_693899142_2221563_1596332_n.jpg

Figure 2.4 Panorama di kota Stuttgart. Waktu yg singkat utk mengejar blue hour membuat terburu-buru sehingga utk mendapatkan frame ini menggunakan 3-4 frame saja. Distorsi diperbaiki saat post processing, recover area yg tidak tertangkap dengan cloning.


4. White Balance/Color Temperature
Well, white balance dan light metering adalah dua hal yg paling rumit dalam photo panorama yg ingin kita stitching. Mengontrol dua hal tsb supaya terjaga utk setiap frame a bit tricky, apalagi jika kita menjumpai frame yg mempunyai dynamic range yg lebar dan kondisi pencahayaan yg tidak merata.
- jika memungkinkan, hindari menggunakan Auto WB, terutama jika menjumpai frame yg rumit pencahayaannya. Karena akan terjadi color shift yg tinggi di tiap frame yg kita ambil.
- Penting utk mengkomposisikan area yg terpenting warna nya dalam satu frame (bukan overlapping frame), sehingga sensor kamera akan mengkoreksi color di one single isolated frame, sehingga tidak ada satu frame photo yg dominan cold atau warm dibanding frame yg lain
TIPS:
- gunakan color tempature (ingat pembahasan kita di pengertian WB di thread2 yg silam?) di 6500K, kecuali cuaca yg mendung yg cenderung cold.
4500K pilihan start utk mendapatkan balance yg optimal antara twilight dan artificial light (seperti Fuji Provia tones)

Jika gak mau pusing di awal motret, bisa gunakan RAW files, dan pake modus Auto WB. Yg saat post processing di ganti Auto WB ini utk keseluruhan frame dengan WB yg berkesesuaian..
3210_77605764142_693899142_1739031_6806282_n.jpg
Figure 2.5 Panorama of Altona Fischmarkt, Hamburg. Exposure dan penentukan WB pada gedung lelang ikan, yg dijadikan frame utama.
Stitching dari 7-8 frames. Overlapping for each frames was 1/4-1/5.
5. Exposure
Ini yg paling tersusah utk menjaga dan mengontrol exposure di tiap2 frame sehingga tidak terjadi shifting yg begitu dominan di salah satu frame nya.
Dengan pemahaman spot metering yg baik (semoga masih inget) dan pemilihan metode metering serta titik yg ingin kita meter sbg acuan, juga menentukan exposure apa yg diambil.
Namun, ada triki utk mengakali supaya tone shifting akibat exposure yg berbeda bisa diminimalisir, (terutama di scene yg susah pencahayaannya misal saat matahari terbenam, blue hour dan golden hour)
TIPS :   pilih satu frame utama yg berisi objek utama dari foto panorama kita, metering dengan tepat sehingga mendapatkan exposure yg tepat dalam satu frame tsb. Lalu jadikan frame tsb menjadi frame acuan utk pengambilan frame2 yg lain.
Metode utk mendapatkan exposure yg tepat, bisa berbagai macam, salahsatunya, cari titik utama dalam POI tsb, cari bidang yg paling gelap dgn kompensasi dan spot metering. tangkap detailnya, pastikan tiap detail dalam POI tsb balance, gunakan histogram tuk mengecek lalu gunakan exposure tsb sbg acuan utk frame2 yg lain.
Keep in mind, should be one exposure for all frames !
15959_194839189142_693899142_3047145_224238_n.jpg
Figure 2.6 Panorama di bawah jemabatan di Dublin, Ireland. Custom House.
Perhatikan bidang tajam di foreground, tiang dan dinding serta exposure (atas jembatan) yg masih terjaga detail di daerah shadow nya.
Lalu… lalu… bagaimana dengan DOF (depth of Field?) atau bidang ketajaman di foto panorama kita?
gimana mengontrol nya?
DOF and Hyperfocal Distance
Karena kita akan stitching frames tsb menjadi satu photo panorama, dimana akan terjadi overlapping area, maka semua images harus kita set pada critical focus yg sama.
Maksudnya, tidak bisa kita memfocus di satu frame hanya pada foreground misalnya lalu di frame yg lain focus di infinity.
So, focuslah di critical distance yg sama di semua frame. Maka frame utama yg menjadi acuan kita bisa kita jadikan patokan utk menentukan focus dengan teori hyperfocal distance, lalu gunakan focus yg sama di setiap frame.
So, take care jika ada benda di foreground utk tetap terjaga ketajamannya di setiap frame.
Kira2 5+1 Tips di atas bisa dipake sbg dasar kita utk mengeksekusi sebuah foto panorama.
Yuk buat latian, kita studi case pada photo di bawah ini.
20373_233408299142_693899142_3228904_5870249_n.jpg

Figure 2.7 Panorama of Landungsbrücken, Hamburg. Stitching from 5-6 frames, Nikon D300, Nikon 17-55 f2.8, at f/13 in 15 sec
Foto hunting bersama Feby dan Gerry.


TIPS & TRIKS dengan STEP by STEP nya dari foto di atas :
- Perhatikan distribusi cahaya dan POI yg ingin ditangkap, tentukan seperti apa photo itu kira-kira akan di eksekusi.
- Batasi angle of view, dan tentukan where it starts where it will be stopped.
Pada photo ini, saya akan menentukan menara pelabuhan tsb sbg POI, saya tentukan moving car utk penambah element dinamis.
- Moment awan yg dramatis segera saya abadikan, dengan POI utama dan frame utama adalah gedung pelabuhan tsb
- tentukan WB, cloudy dan ingin mendapatkan kesan cold, saya set WB (saya lupa temperature nya)
- metering ke jam, metering ke bagian tergelap di menara tsb (atas jam), tentukan exposure yg mewakili.
- check histogram, dan jadikan foto dengan frame tsb sbg frame utama
- ambil satu frame dengan POI utama dengan format horizontal, sbg back up utk menjaga moving cloud tercapture nanti dalam frame stitching nanti.
- starting capturing frame by frame dengan one single exposure dan one single color temperature, overlaping sekitar 1/5 dari frame
- Stitching all together, dan manfaatkan frame utama format horizontal utk covering moving cloud yg memang awannya cepat sekali bergerak karena angin.

So, sbg penutup, kata kunci utk mendapatkan foto panorama yg baik adalah : multiple series of images with one exposure, one WB value and one steady spot.
Semoga apa2 yg disampaikan di atas, bisa bermanfaat dan mengundang diskusi yg lebih dalam lagi.
Oh iya, ada kelupaan…

Apakah stitching foto cuman utk panorama photo? Tentu tidak… Sekali2 kita think out of the box.

Dalam foto di bawah ini, diambil dengan 4 frame yg kanan atas, kanan bawah, kiri atas dan kiri bawah yg kemudian digabung menjadi sebuah foto stitch dari 4 frame.
Jungsfrienstieg-Pano2.jpg?et=qvzj50gAmiHkbRDgFDIWbA&nmid=113614239
Figure 2.4 Panorama of Königsplatz (Glyptothek), München-Germany, 7-8 frames.

gabung.jpg?et=vvrKJq0Ov13rx7W9Xzw55w&nmid=108305304

Perhatikan WB nya, bagaimana mengontrol color temperature di alley (lorong) dan langit tetap terjaga, serta distorsi bisa dikontrol dengan baik.
Beberapa detail di highlight dan shadow juga dicontrol…


salam,
Prio Adhi Setiawan
www.priotography.com
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Post Navigation