Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 1)

(copas dari milis)

Ok ttg Stock photo. Dan sedikit banyak sudah dibahas oleh Leo,..
Tapi ada beberapa tambahan mungkin yg bisa dijadikan referensi. Kita coba ulas dikit, dari definisi, sampe what sells and what does not from stock, hingga tips dan trik how to make sure that our pictures win to make dolars from cents.
Dibanding Leo, saya termasuk pasif di dunia microstock (sempat kita ngobrol2 buat majuin stock indonesia di web yg dibangun Leo), dan lebih berkonsentrasi di macrostock. menengok ke belakang, tapi saya punya gallery di Alamy dan di Fotolia, yg seperti Leo, menjadi penghasilan pasif. Berbeda dengan macrostock yg sekali “ketangkap” bisa beratus2 euro (hingga mungkin ribuan), microstock photo bisa kita bangun dengan rajin upload, controlling quality photo utk di upload, dan menjaring banyak orang utk tahu photo kita dan membeli microphoto kita. Tapi gimana caranya…?

A. INTRODUCTION & DEFINITION
Tahukah Anda, banyak sekali di luar sana orang yg mencari photo utk keperluan web design, calendar design, postcard, books, whatever you called it, buku ttg resep, buku ttg editorial, majalah, cover buku dan majalah, tourismus pocket book hingga buku2 pelajaran? Dan masih banyak lagi.
Dan revolusi dunia microstock berawal dari kebutuhan tsb.
Dulu, designer to designer does cooperation by image sharing… dan dari sana pulah microstock berkembang
Kebanyakan photo yg ada di buku (seperti yg di bahas di atas) majalah, dan di internet (potensi terbesar hingga saat ini) adalah photo2 yg diseleksi oleh photo editor dan deisgner yg ada di pasar microstock, walau ada juga high-end advertising agencies yg memiliki profesional photographer hanya utk memberikan input photo yg mereka butuhkan (seperti agen 007, shot as requested)
Tapi pernah ndak kita bayangkan, utk mendapatkan photo sebuah tempat pariwisata terkenal di sebuah pulau di Jerman di musim dingin misalnya sementara sekarang musim panas, apakah publisher dan photo editor akan lebih memilih menghire seorang photographer profesional yg diberi assignment utk berangkat ke pulau tsb?
Dimana ia akan membutuhkan asisten, membayar trasnport dan akomodasi photographer tsb, hiring model, menyewa peralatan pencahayaan dahulu… dan terbayang susah dan need a lot of money.
Dibanding kayak gitu mending tinggal searching di Getty, Corbis, Alamy, Fotolia, cari bagian landscape saat winter.. selecting best image based on their needs. They will have a lot of option.
So seperti prinsip pasar, dimana ada need disitu ada demand dan peluang akan tercipta, dan microstock pun berkembang dari kebutuhan tsb. Dan ada 3 hal yg membuat menjadi microstock menjadi maju seperti sekarang :
1. Internet.. dimana ajah bisa kita temuin, udah gak perlu lagi expensive catalogue dengna photo2 baru yg tercetak secara kinclong, cukup cari portofolio atau stock market.
2. Fast and cheap internet connection, dimana ajah bisa upload dan bisa download. Dan bahkan ada stock market yg menyediakan layanan upload otomatis via FTP server, yg kita secara berkala tinggal transfer copy and paste selayaknya di kompi kita sendiri
3. Digital camera. Dimana sudah tak ada lagi post processing yg lama hingga menunggu film selesai, tingga jepret, review check quality of the images, upload…
Ketiga peluang tsb bisa kita manfaatkan sbg MODAL kita. It’s nearly free (kecuali kamera digital sih, tapi kan udah punya semua kan? udah gak pinjem? hehehhehe)
Dan seperti apa kata Leo, daripada semua photo2 tsb jadi bulukan di HD, kali bisa bermanfaat buat orang lain…and we’ll get money from that.
So stock photo adalah photo atau image yg mempunyai licensed utk keperluan tertentu, in any words : Stock photography is photos or images that can be licensed for specific used that could fullfill the needs of creative assignment instead of hiring a photographer.
Dan seperti dijelaskan sebelumnya, ada micro dan macro.
Sejauh ini saya mendapatkan porsi pendapatan pasif saya banyak dari macrostock dibanding micro .. dan based on my personal experience, maka tips dan triks ini dibuat dan disusun, yg mungkin bisa membantu dan jadi inspirasi buat temen2 semua.
B. TIPS & TRICKS

What Sells and What does NOT ?
ada 3 mantra : good – right, concept and simple photographs. Photo2 yg bagus dan tepat, baik secara konsep dan simple.
Terus kayak gimana tuh photo2 yg kayak gitu?
Sebenarnya udah dibahas sama Leo secara ringkas, tapi coba di ulas satu persatu.
Some (very) basic about what good photograph buat stock :
1. No digital noise please…
Kebanyakan agen2 photo, membuat ranking berdasarkan kualitas photo dan potensi photo tsb terjual. So make sure, photo2 Anda clear, tajam, komposisi yg bagus, cahaya yg cukup, dan bebas dari noise karena high ISO, atau underexposure atau olah post process yg berlebihan. Hati2 buat temen2 yg suka over dalam mempost processing kan photo,… Bumbu yg kebanyakan akan membuat photo, “rusak” kualitas pixelnya. Check 100% dari size photo dan teliti apakah ada cacatnya akibat overcooked … :)
2. No snapshots or tourist-like photos, please…
Kadang kita masuk dalam kotak berpikir, kita share ajah semua photo2 kita tanpa seleksi, Itu tidak benar. Jangan pernah berpikir bahwa bisa mendapatkan uang dari photo2 stock yg “biasa”, hanya snapshot, dan everyone can get this. Cari keunikan dari photo tsb (walau ujung2nya kejual hanya 1 euro, tapi akan terus banyak dicari orang karena keunikannya)
Yg menjadi barometer adalah gimana kita sbg fotografer berpikir dari sisi komersial photo ini, karena demand microstock memang dari sisi komersialnya.
3. No logo/copyright please
Jika masih ingat dahulu, sempat saya bahas gimana supaya photo kita “dilirik” orang. Adalah jangan sekali2 menaruh logo, copyright by si fulan di photo. Terlebih2 jika ingin di upload di stock agencies. Itu pantangan terbesar.
Bahkan di flickr sekalipun, (most of photos saya malah banyak dilirik orang karena liat di flikr), calon buyer akan merasa males utk mengkontak si photographer yg menghiasi photo2nya dengan logo2 dan copyright..
Tips nya utk menghindari pencolongan, set di flickr sbg All Copyright reserved, taruh di resolusi terendah (biasanya kalao saya max di 600 pixel), dan tambahkan keterangan bahwa all photo is under your copyright for use. Jika ada orang yg mengambil ijin, mereka gak bisa menikmati foto tsb dalam pixel yg tinggi, dus, bisa kita jadikan alat utk promosi gratis… :)
4. Ask your model sign a model release, please…
In many cases, ini dibutuhkan. Walau utk kebutuhan editorial seperti majalah, koran ini tidak muntlak dibutuhkan. Tapi utk berjaga2 gak ada salahnya mempunyai model release, terutama wajah yg terliat jelas di photo
Model release sempat di bahas detail di thread yg lain, dan Leo bahkan sudah share model release yg pernah dipakainya.
5. Pemilihan stock agency yg tepat, please…
Sudah di bahas sekilas oleh Leo beberapa Agency stock. Masing2 punya rules dan style tersendiri. Tips nya :
- pelajari berapa banyak visitors (traffic) di web agency tsb… jika banyak berarti pasar lebih luas. Ada tools utk meliat traffic sebuah website, alexa, coba gunakan utk memilih agency web yg tepat.
- pelajari berapa banyak photo yg bisa diupload, ada beberapa agency yg membatasi upload photo
- pelajari bagaimana sistem pendanaannya, ada yg via paypal, tapi ada juga yg hanya bayar melalui check yg dikirim ke alamat kita. Selidiki kemungkinan yg paling pas dan tepat utk kita masing2
Lalu bagaimana dengan photo yg tepat tadi? (mantra ke dua)
Tidak selalu photo yg bagus menjadi saleable (bisa dibeli) jika tidak tepat. Tapi ada juga photo yg mungkin secara teknis tidak sempurna tapi malah karena TEPAT maka jadi terbeli.
1. Good light, good composition, good exposed
Secara tekniks sudah bener dulu… lalu menjadi tepat. Tapi kadang out of teknik, ada photo2 yg diluar itu justru mejadi incaran para calon buyer.
Contoh sederhana :
- photo2 yg di potret dengan komposisi vertical (portrait) akan menjadi incaran para publisher majalah dan buku utk cover. Kenapa? Yah karena need mereka adalah photo2 yg portrait yg tanpa harus recompose dengan cropping (sehinga mengurangi pixel) sudah cukup memenuhi “need” mereka.
- photo2 yg dikomposisikan dengan banyak memberikan bidang kosong, punya potensi yg besar utk editorial utk majalah, koran dan buku. Kenapa? Karena mereka mencari photo yg bisa di integrasikan dengan tulisan dan keterangan sehingga bisa menjadi satu. Ini juga penting utk berkomposisi dan mengambil sudut yg baik dan tepat
2. Pemilihan Kategori dan Keyword
Ini bagian terpenting utk supaya photo kita dilirik. Jangan anggap remeh “tag-line” dan keyword. Photo sebagus apapun, jika salah dan tidak TEPAT dalam tag dan keywordnya tdk akan dilirik oleh calon pembeli.
Satu photo bisa berjuta tag yg mungkin bisa kita sematkan, tapi pilihlah kata2 yg menjadi key utama orang saat mencari photo. Posisikan diri kita sbg orang design yg membutuhkan photo tsb.
Banyak tips dan triks gimana utk keywording yg baik :
- tempat and location dimana photo itu diambil
- action yg tercipta dari photo tsb
- warna dominan dari photo tsb
- objek utama POI dalam photo tsb
dll
C. BEBERAPA STOCK AGENCIES
Seperti di awal di atas, saya lebih berkonsentrasi pada macro stock dibanding micro. Tapi saya sudah melakukan beberapa riset ttg agency yg ada di stock, dan rasanya bisa kita share di sini.. utk mengencourage dan memotivasi temen2 IPC utk menjadi photopreneur :
1. Dreamstime (www.dreamstime.com)
- berdiri sejak thn 2000 sbg Royalty-Free stock.
- Komisi : 50 cents (dalam dolar) buat photo yg di donlot orang
- makin banyak yg donlot utk satu photo, komisi meningkat
2. Shutterstock (www.shutterstock.com)
- calon pembeli membeli photo perbulan (month basis) dan bisa download 750 image per 30 hari
- Komisi 25 cents utk tiap photo yg di donlot
- Upload bisa via FTP, HTML dan activeX
3. Bigstockphoto (www.bigstockphoto)
- one of the fastest stock market
- Komisi 50 cent tapi ada option 20 dollar utk photo yg special licensed (gak bisa dipake bareng)
- search engine nya membingungkan buat para buyer. ada forum nya juga…
4. 123RF (123rf.com)
- dimiliki oleh Inmagine, jadi Royalty Free sejak thn 2000
- terbagi low res ($ 1), med-res ($2) dan hires ($3)
- Komisi kita 50% dari total pembayaran tiap photo.
5. Istockphoto (www.istockphoto.com)
- the biggest microstock agency online today
- ada kompetisi tiap photographer
- di seleksi photo2 yg diupload
- ada limit jumlah photo yg diupload.
6. Fotolia
- tempat saya mencari nafkah :)
graphic nya lumayan bagus, utk satu single photo yg saya upload, dalam 6 bulan saya sudah terkumpul 69 euro
- ada di 5 tempat, USA, Prancis, German, spanyol dan uk
- ada low res, med res dan high res.. yg masing2 ada tarif nya tersendiri. Bisa 8 euro per photo utk ukuran photo XXXL, jadi ada tarif per ukuran pixel juga.
D. BISA HIDUP DARI MICROSTOCK ? How to make dollar from cents?
Ok, kurang lebih begitu…
Bener apa kata Leo, jika macro stock utk pemakaian dan digunakan utk tujuan tertentu di harga 200 euro per satu photo, microstock akan dihargai 1 euro per satu foto jadi utk bisa jadi 200 euro perlu ada 200 orang yg download photo tsb.
Tapi bukan berarti tidak menjadikan microstock menjadi tidak menarik, karena sifat royalty free tsb lah yg membuat banyak orang mendonlotnya.
Jika boleh saya jadikan contoh dan share kasus photo saya yg ini : (duh punten ini jadi omongin uang… :( mudah2an bukan bibit dan jauh dari sifat riya)
499845417_f0828be46c.jpg
Foto tsb, diupload di Flickr dan lucky me, ada orang yg tertarik utk menjadikan photo tsb menjadi cover sebuah tourist pocket book GALA Tour, dihargai 180 euro per photo.
Setelah putus kontrak dan licensed dengan photo tsb, saya iseng upload ke microstock Fotolia
dan dalam 6 bulan dari 1 foto tsb terkumpul 69 euro dari berbagai ukuran , S, M , L hingga XL (lebih dari 10 euro per bijinya jika XL)
Dari contoh di atas, satu foto bisa kita jadikan sample yg bagus ttg definisi micro dan macrostock. Sekaligus tips dan triks di atas, bahwa pemilihan dead center composition dan vertical menjadi lebih dilirik publisher dibanding foto2 yg sejenis tapi memilih angle dan komposisi yg horizontal.
Sebagai penutup, jangan lupa 3 mantra tadi : good-right, concept, and simple photograph. Menjadi acuan. Photo bagus tapi tidak tepat dan tidak simple … belum tentu beliable, and saleable.
Begitu juga sebaliknya, simple photograph tapi lemah concept dan poor technique, menjadi tidak menarik di mata buyer.
Tapi hal yg terpenting adalah keberanian kita utk memulai langkah lebih maju.
Saya ingin mengencourage temen2 bahwa, tidak sulit utk menjadi photopreneur. Bisa sekarang, bisa besok atau bisa tahun depan, tapi beranikah Anda menerima tantangan?
Salam
Prio Adhi Setiawan
Share

About aRfian

seorang photography enthusiast, masih newbie tapi. selain di genre2 umum (portrait, landscape) berminat juga di genre macro, iR, HDR bekerja sebagai web developer di perusahaan content provider di daerah mampang, jakarta selatan

One Thought on “Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 1)

  1. Terima kasih tips n trick nya, bro!
    Helpful sekali…
    :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Post Navigation