The Best Camera is …

How to get precious moments with any camera you have

by Prio Adhi Setiawan

The best camera is the one that’s with you” (Chase Jarvis)

There is no rules in photography, there is only a good photograph” (Ansel Adams)

"Geschlossen=Closed" taken with iphone, 2011

Pernahkah kita berada dalam suatu kondisi dimana kita merasa bahwa motret itu HARUS dengan lensa tertentu dan HARUS dengan kamera merek tertentu?

Pernah kita merasa photo kita akan meningkat tajam dan bagus serta layak tampil jika hanya dipotret dengan kamera dan kombinasi lensa tertentu?

Atau pernahkah kita begitu tak berdaya nya, begitu merasa orang paling tidak beruntung, ketika meliat suatu pemandangan yg begitu indah, moment yg cantik tapi kita sama sekali tidak memiliki apa-apa utk mengabadikan nya?

Atau pernah kita merasa begitu malas dan hilang motivasi kegiatan photography kita (yg biasanya begitu membara) karena bosan dengan gear yg dimiliki?

Suatu pertanyaan yg kontradiksi sebagai awal pembelajaran kita kali ini. Bahwa ternyata semahal, selengkap apapun koleksi lensa, dan kamera kita, jika momentum tersebut hadir di depan mata kita, ketika suatu view terindah yg pernah kita liat ada di depan kita, dan saat itu kita tidak membawa kamera canggih puluhan megapixel, lensa super mahal dengan bukaan super besar sekalipun… itu semua adalah suatu yg sia-sia belaka. Dan moment itu hanya terekam di memory kita, dan mata yg diberikan Nya lah yg bisa menangkapnya.

"Blue Kassienspitze" taken with Fuji Finepix M603, 2003

Maka tak heran si Chase Jarvis mengeluarkan statement yg sempat heboh kala itu, yaitu “the best camera is the one that’s with you” , kamera terbaik adalah kamera yg bersama mu saat itu, kala itu … di tangan mu !! Karena moment itu tak akan bisa dikreasikan dan datang 2 kali. Walau statemet Jarvis keluar dalam kaitannya dengna buku hasil karyanya ttg mobile photography dan dikaitkan dengna mereka handphone tertentu, tapi fenomena tersebut bisa kita jadikan sebuah pelajaran bahwa… tak perlu kita terlalu membanggakan gear yg kita punya. Atau merasa tanpa gear2 tersebut kita seperti pujangga tanpa pena. Karena sejatinya, pena utk photographer adalah kamera dan kamera tidak menjadi satu2nya “penentu” mutu dan kualitas sebuah karya photo itu baik atau tidak.

Salah satu ujar2 Arbain Rambey yg sempat saya ingat adalah : “penentu mutu dan kualitas photo ada 4: lensa, mutu sensor, post processing dan skill”. Jadi jika kita hanya membanggakan lensa tertentu, itu hanya seperempat dari yg menentukan mutu dan kualitas photo :)  Entah itu hanya sebuah kamera poket, kamera DSLR dengan lensa kit, kamera dari handphone, dari BB dari iphone atau hanya sebuah SLR tua, atau mungkin hanya disposal kamera yg sekali pake buang yg banyak, itu semua pena yg kita bisa manfaatkan utk mengabadikan momen terindah yg tak akan pernah bisa kita jumpai lagi.

"up" taken with Nikon FE2+50mm 1.4 with AGFA APX 100

Photography has no boundary

Tak ada batasan dari photography. Seperti halnya musik, bahasa visual adalah salah satu bahasa yg universal. Dengannya bisa banyak pesan tersampaikan, bahkan sebuah bahasa gambar pun bisa multi-intepertation…Sementara, momentum adalah sesuatu yg tak terduga yg terjadi bisa kapan saja… variantnya adalah waktu.

Lalu bagaimana kita bisa “on the right time and on the right place” sehingga kita bisa mendapatkan precious moment?

- get close with ur camera (whatever it is) and when you have it in hands, use it optimally

"up" taken with Nikon FE2+50mm 1.4 with AGFA APX 100

Kadang kita tentu tak bisa selalu memegang kamera kemana-mana, terlepas dari dimensi dan fungsinya, kadang di occasional tertentu kita terbatasi oleh kondisi dan lokasi. Tapi teknologi juga sudah berkembang sedemikian pesatnya sehingga sebuah alat utk merekam sebuah gambar menjadi sangat mudah kita temukan dan berharga tak lagi semahal era dahulu. Kamera poket 5 mpixel “hampir” sebesar setipis dan sebesar kartu kredit sangat mudah kita temui dimana-mana. Atau bahkan dengan kamera di handphone kita yg selalu tak pernah lepas dari saku kita, bisa kita manfaatkan utk berkarya.

Tahukah Anda, pemenang juara ke 3 dalam “Picture of the Year” adalah sebuah photo oleh Damon Winter berjudul “The Grunt’s Life” yg diambil dari sebuah kamera iphone ?

Seorang photojurnalis dari koran New York Times, yg meliput kegiatan tentara amerika dalam sebuah operasi militer melawan Taliban. Walau kemudian photo tersebut mengalami diskusi yg cukup panjang dalam kaitan peraturan lomba, tapi photo tersebut cukup membawa sebuah mindset baru, sebuah perspektif baru dalam dunia photography. Seolah membenarkan statement dari Chase Jarvis.

Hikmah dari coret-coretan ini di atas adalah  berujung pada sebuah pertanyaan: bagaimana membuat kamera kita menjadi the best?

yaitu dengan ..

  • Optimalkan gear yg sudah dimiliki, seringlah dipakai utk memotret, asah skill dan jangan pernah cepat puas pada satu stream.
  • Galilah kreatifitas, dan latihlah sense meliat unseen moment dan ubah menjadi sebuah moment yg percious dan berharga.
  • Karena sejatinya adalah : photography tak mengenal batas !

"Geschlossen=Closed" taken with iphone, 2011

Selamat jepret !

Posted by Ratna Widiarti

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Post Navigation