Category Archives: Ilmu Fotografi

Picture Control Nikon

Karena satu dan lain hal, dan salah satunya makin bertambahnya pemakai Nikon D90 serta atas email japri beberapa kali. Saya ingin share beberapa yg saya ketahui ttg picture control, setting, serta bagaimana kita tune up nya.

Jika term of Picture Control ada di Nikon, bukan berarti feature tsb tidak ada di Canon, walau saya tidak memahami nya dengan dalam, tapi ada di Canon’s User Defined atau skrg dikenal juga sbg Picture Styles. Di Pentax dikenal sbg Picture Mode.
Mungkin utk bisa mempersempit bahasan, saya konsentrasi pembahasan di sini utk Picture Control di Nikon.
_DSC0751.jpg
Nikon D300 + 17-55 f2.8, strobist kiri 1/32 dan kanan 1/64 + piccon Superia.
Tanpa post processing, hanya resizing max 640 pixel

Apa sih Picture Control/Picture Style itu?

Picture Control itu tidak lain dan tidak bukan “hanya”lah setting utk saturasi, sharpness, WB, hingga curve yg bisa kita atur2 kemudian dijadikan semacam “template” yg ditanamkan dalam kamera kita. Adjusting parameter tsb bisa kita lakukan in atau out of camera.

Share

[IPC] (SHARE) Posisi Menentukan Prestasi

Ternyata hal tersebut tidak saja berlaku ketika mau ujian saja (hayoooo ngaku) tapi juga berlaku di photography.

Posisi menentukan angle dan best composition yg bisa kita abadikan. Walau yg di abadikan adalah benda dan objek yg sama, tapi posisi yg tepat dan ditunjang waktu yg tepat akan membuat dimensi dan mood yg berbeda di foto yg kita abadikan..
Sharing ini ingin menunjukan apa yg dimaksud dengan “posisi menentukan prestasi”. Mana yg terbaik dan mana yg enak secara komposisi kita nikmati tentu berbeda tergantung dari definisi keindahan itu sendiri..
Tapi hikmah dari pelajaran ini adalah, utk mendapatkan the great masterpiece photo, it not a matter of gear and how we execute.. it’s also a matter of process.
You’re very lucky jika dalam a single shot langsung dapat foto yg paling bagus.
So, keep explore, keep hunting, buat riset posisi di mana yg paling tepat utk angle yg paling ok..
PART 1 : HAMBURG PANORAMA,
Share

Backlighting and Strobist with one speedlight only

Backlighting and Strobist with one speedlight only

(a teaser to go further in “Strobist with One Speedlight”)
by Prio Adhi Setiawan

Kadang sumber cahaya selalu kita hindari, matahari, lampu dll..

Konon katanya pamali kalau motret menantang matahari… “Nanti gelap semua”, “nanti filmnya kebakar” dll…
Matahari jika kita pintar memanfaatkan dan menempatkannya akan memperkuat POI yg ingin kita photo…
Contoh sederhana, jika suka motret nature, bunga dsbnya.. menggunakan matahari sore dan menempatkan jatuhnya matahari di belakang.. akan menguatkan shape dan garis2 kuat daun dan bunga.
31311_389666154142_693899142_4028134_6930996_n.jpg

Lalu bagaimana jika ingin motret tapi harus menantang matahari di siang terik dan bolong pula? ;)
Manfaatkan spot metering… dan ukur dengan seksama ke daerah yg benar2 kritis utk di meter… Misal ke daerah paling gelap… Lalu manfaatkan matahari yg letaknya di belakang POI dengan merefleksikan nya ke depan dan muka POI.
Kurang kuat…? Gunakan Blitz.. dan jadikan dia sebagai cahaya fill-in mengisi daerah2 yg gelap tsb.
Contoh pada foto dibawah ini. Foto ini dibuat hari sabtu-minggu kemarin (5-6 Juni) saat kita mengadakan acara “Photographers Meet Hamburg”, yg datang peserta hingga 50-60 orang dari kota2 di Jerman dan Belanda, Swiss dan Swedia.
Kondisi setting tempat, saat itu matahari ada di belakang atas kanan…. Tanpa Blitz tentu tidak ada yg “mengisi” shadow di muka2 para peserta “Photographers Meet Hamburg” (PSM) tsb.
Share

Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 2)

(copas dari milis)

Oh iya ada tambahan dikit, photo2 yg bagaimana yg bisa dijual?

Tentu kita perlu analysis pasar dari kebutuhan si calon pembeli photo kita. Utk kebutuhan web designer, publisher media2 cetak dsbnya… banyak hal yg perlu kita kategori kan (liat tips dan triks di bawah utk “pemilihan kategori dan keywording”
1. Business and lifestyle image
- photo orang salaman,
- grup orang saat meeting
- orang memegang tas koper
dsbnya.. menjadi photo2 yg menjadi incaran para calon buyer di kategori ini. Jas, dasi, payung, tas kerja, juga lifestyle orang2 kantoran juga jadi penting..
Share

Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 1)

(copas dari milis)

Ok ttg Stock photo. Dan sedikit banyak sudah dibahas oleh Leo,..
Tapi ada beberapa tambahan mungkin yg bisa dijadikan referensi. Kita coba ulas dikit, dari definisi, sampe what sells and what does not from stock, hingga tips dan trik how to make sure that our pictures win to make dolars from cents.
Dibanding Leo, saya termasuk pasif di dunia microstock (sempat kita ngobrol2 buat majuin stock indonesia di web yg dibangun Leo), dan lebih berkonsentrasi di macrostock. menengok ke belakang, tapi saya punya gallery di Alamy dan di Fotolia, yg seperti Leo, menjadi penghasilan pasif. Berbeda dengan macrostock yg sekali “ketangkap” bisa beratus2 euro (hingga mungkin ribuan), microstock photo bisa kita bangun dengan rajin upload, controlling quality photo utk di upload, dan menjaring banyak orang utk tahu photo kita dan membeli microphoto kita. Tapi gimana caranya…?
Share

Serba-Serbi Stock Photo by Leo Lintang

(copas dari milis)

Wah… akhirnya ada thread ini…. saya bahas dikit tentang Micro
yah..

mungkin Bang Priyo bisa bahas tentang Macro kalo gak salah
beliau ikutan alamy

Stock photo itu dibagi dua yaitu macrostock dan microstock
Macrostock –> RM (Right Managed) : Photo kita harganya mahal dan satu
pembeli hanya bisa menyewa 1 foto saat itu juga. Photographer tahu
fotonya dipakai oleh siapa dan dalam jangka waktu berapa lama

Microstock –> RF (Royalty Free) : Photo kita dihargai murah dan satu
foto bisa rame-rame dengan kondisi tertentu, dan biasanya kita gak
tahu siapa yang pake foto kita

Wah kalo gitu untungan Macrostock donk daripada micro?
Read More …

Share

Bersahabat Dengan Cuaca

Tergelitik oleh pertanyaan bagaimana pengalaman “bertarung” dengan cuaca, bagaimana motret di cuaca yg mendung dll… ijinkan utk share artikel ini.. .tips dan triks gimana caranya kita bisa bersahabat dengan cuaca, terlebih cuaca buruk.

Bagaimana kita “masih” bisa menghasilkan stunning photos walau cuaca jelek, dan cuaca gak mau temenan sama sang fotografer.

Bersahabat dengan Cuaca

TAKING A BEST FROM BAD WEATHER

Sesuai dengan artinya photography, is a matter of how to paint with light. Again .. light.

So, muncul pertanyaan… jika tidak ada cahaya.. tentu kita ndak bisa melukis dengan cahaya. Ibarat pelukis gak punya kuas dan cat buat ngelukis.

Lalu gimana jika light yg ada tidak cukup utk membuat photo yg bagus? Dalam bayangan kita, photo yg bagus adalah saat siang hari dengan matahari yg ramah, the blue sky dengan awan yg gemuk berarak dengan warna hijau pepohonan serta rumput yg bergoyang, bersama bunga2 liar kuning. Tanpa komando, kita akan bilang…. “that would be a great great photo !”

2491840504_82e0c2b74e_m.jpg

Lalu bagaimana jika kondisi ideal itu tidak tercapai? Pulang dan kembali lagi next time? or try to transform the weather become our “friend” to make an unique wow factor into our frame?

Cuaca yg buruk, bisa kita jadikan media latihan – atau mungkin kita sebut sbg, Tantangan – utk bisa teteup bisa menghasilkan photo bagus. Tantangan tsb apa ajah?

Read More …

Share

Panorama Photography (part 2)

Lanjutan dari part 1 nya yg ada di sini
yuk kita lanjutkan diskusi foto-memfoto kita….

Panorama Photography (2)
by Prio Adhi Setiawan
2791524558_827d4b375b_z.jpg?zz=1
Figure 2.1 Speicherstadt panorama, Hamburg. Stitching from 6-7 frames
Setelah artikel sebelumnya sedikit nyerempet apa itu panorama dan beberapa karakter dengan gear2 tertentu serta angle of view dengan focal length tertentu, kali ini kita ngebahas dikit ttg gimana how to nya.
Kita mulai dari beberapa point dan keyword di edisi sebelumnya yg di sini
1. Angle of View
- Di photo panorama yg diciptakan dengan stiching beberapa frame photo, photographer menentukan seberapa wide angle of view yg mo diciptakan yg berkaitan erat dengan akan se berapa banyak akan masuk dalam frame.
- Ciptakan angle of view yg mampu attracting people to view more in detail.
- Mengangkat sebuah POI dalam frame panorama, makin banyak hal2 yg menarik yg bisa diikutsertakan, contoh dalam photo di atas, POI utama yg diletakan ditengah adalah sebuah bangunan tua yg diframing dengan kerangka jembatan yg diambil full wide dengan menggabungkan beberapa photo format horizontal (6-7 frames)
Share

Panorama Photography (part 1)

Mungkin masih dalam euforia dan kelelahan pasca 20 thnan, tapi utk membangkitkan lagi semangat per-photography-an kita, dan mengembalikan milist IPC ke khittahnya, yuk..

kita gali2 ilmu lagi.

Mungkin dengannya kita bisa punya semangat baru buat berhunting ria… dan bisa berkreasi lebih lagi.

Untuk menjawab pertanyaan temen2 IPC ttg panorama, kebetulan artikel ini udah disiapkan dulu sebelumnya dan semoga dengan artikel ini bisa menjawab -walau sedikit- ttg bagaimana motret panorama yg baik, termasuk di antaranya… tips dan triks juga how to nya.

Panorama Photography
by priotography

3210_77605754142_693899142_1739030_3688923_n.jpg
Figure 1 : stitching photos from 7-8 frames all together (photo by priotography)
Angle dan Format
Term of Panorama sebenarnya term yg berusaha dijabarkan orang utk menggantikan term dari “super wide format” photography. Term tsb kemudian berkembang menjadi sebuah aspect ratio dalam format “kelebaran” dalam sebuah fotografi. Jika wide angle biasanya utk menggambarkan kelebaran sebuah lensa, dan ultra wide di refleksikan sbg angle yg bisa tertangkap oleh lensa, maka panorama biasanya sebuah angle melebihi yg bisa di tangkap oleh mata manusia.
Share