sharing
Picture Control Nikon
by priotography on Apr.17, 2011, under Ilmu Fotografi, sharing, Tips & Trick
Karena satu dan lain hal, dan salah satunya makin bertambahnya pemakai Nikon D90 serta atas email japri beberapa kali. Saya ingin share beberapa yg saya ketahui ttg picture control, setting, serta bagaimana kita tune up nya.

Apa sih Picture Control/Picture Style itu?
Picture Control itu tidak lain dan tidak bukan “hanya”lah setting utk saturasi, sharpness, WB, hingga curve yg bisa kita atur2 kemudian dijadikan semacam “template” yg ditanamkan dalam kamera kita. Adjusting parameter tsb bisa kita lakukan in atau out of camera.
The Best Camera is …
by mojangwiwid on Mar.28, 2011, under sharing
How to get precious moments with any camera you have
by Prio Adhi Setiawan
“The best camera is the one that’s with you” (Chase Jarvis)
“There is no rules in photography, there is only a good photograph” (Ansel Adams)
Pernahkah kita berada dalam suatu kondisi dimana kita merasa bahwa motret itu HARUS dengan lensa tertentu dan HARUS dengan kamera merek tertentu?
Pernah kita merasa photo kita akan meningkat tajam dan bagus serta layak tampil jika hanya dipotret dengan kamera dan kombinasi lensa tertentu?
Atau pernahkah kita begitu tak berdaya nya, begitu merasa orang paling tidak beruntung, ketika meliat suatu pemandangan yg begitu indah, moment yg cantik tapi kita sama sekali tidak memiliki apa-apa utk mengabadikan nya?
Atau pernah kita merasa begitu malas dan hilang motivasi kegiatan photography kita (yg biasanya begitu membara) karena bosan dengan gear yg dimiliki?
Suatu pertanyaan yg kontradiksi sebagai awal pembelajaran kita kali ini. Bahwa ternyata semahal, selengkap apapun koleksi lensa, dan kamera kita, jika momentum tersebut hadir di depan mata kita, ketika suatu view terindah yg pernah kita liat ada di depan kita, dan saat itu kita tidak membawa kamera canggih puluhan megapixel, lensa super mahal dengan bukaan super besar sekalipun… itu semua adalah suatu yg sia-sia belaka. Dan moment itu hanya terekam di memory kita, dan mata yg diberikan Nya lah yg bisa menangkapnya.
Maka tak heran si Chase Jarvis mengeluarkan statement yg sempat heboh kala itu, yaitu “the best camera is the one that’s with you” , kamera terbaik adalah kamera yg bersama mu saat itu, kala itu … di tangan mu !! Karena moment itu tak akan bisa dikreasikan dan datang 2 kali. Walau statemet Jarvis keluar dalam kaitannya dengna buku hasil karyanya ttg mobile photography dan dikaitkan dengna mereka handphone tertentu, tapi fenomena tersebut bisa kita jadikan sebuah pelajaran bahwa… tak perlu kita terlalu membanggakan gear yg kita punya. Atau merasa tanpa gear2 tersebut kita seperti pujangga tanpa pena. Karena sejatinya, pena utk photographer adalah kamera dan kamera tidak menjadi satu2nya “penentu” mutu dan kualitas sebuah karya photo itu baik atau tidak.
Salah satu ujar2 Arbain Rambey yg sempat saya ingat adalah : “penentu mutu dan kualitas photo ada 4: lensa, mutu sensor, post processing dan skill”. Jadi jika kita hanya membanggakan lensa tertentu, itu hanya seperempat dari yg menentukan mutu dan kualitas photo
Entah itu hanya sebuah kamera poket, kamera DSLR dengan lensa kit, kamera dari handphone, dari BB dari iphone atau hanya sebuah SLR tua, atau mungkin hanya disposal kamera yg sekali pake buang yg banyak, itu semua pena yg kita bisa manfaatkan utk mengabadikan momen terindah yg tak akan pernah bisa kita jumpai lagi.
Photography has no boundary
Tak ada batasan dari photography. Seperti halnya musik, bahasa visual adalah salah satu bahasa yg universal. Dengannya bisa banyak pesan tersampaikan, bahkan sebuah bahasa gambar pun bisa multi-intepertation…Sementara, momentum adalah sesuatu yg tak terduga yg terjadi bisa kapan saja… variantnya adalah waktu.
Lalu bagaimana kita bisa “on the right time and on the right place” sehingga kita bisa mendapatkan precious moment?
- get close with ur camera (whatever it is) and when you have it in hands, use it optimally
Kadang kita tentu tak bisa selalu memegang kamera kemana-mana, terlepas dari dimensi dan fungsinya, kadang di occasional tertentu kita terbatasi oleh kondisi dan lokasi. Tapi teknologi juga sudah berkembang sedemikian pesatnya sehingga sebuah alat utk merekam sebuah gambar menjadi sangat mudah kita temukan dan berharga tak lagi semahal era dahulu. Kamera poket 5 mpixel “hampir” sebesar setipis dan sebesar kartu kredit sangat mudah kita temui dimana-mana. Atau bahkan dengan kamera di handphone kita yg selalu tak pernah lepas dari saku kita, bisa kita manfaatkan utk berkarya.
Tahukah Anda, pemenang juara ke 3 dalam “Picture of the Year” adalah sebuah photo oleh Damon Winter berjudul “The Grunt’s Life” yg diambil dari sebuah kamera iphone ?
Seorang photojurnalis dari koran New York Times, yg meliput kegiatan tentara amerika dalam sebuah operasi militer melawan Taliban. Walau kemudian photo tersebut mengalami diskusi yg cukup panjang dalam kaitan peraturan lomba, tapi photo tersebut cukup membawa sebuah mindset baru, sebuah perspektif baru dalam dunia photography. Seolah membenarkan statement dari Chase Jarvis.
Hikmah dari coret-coretan ini di atas adalah berujung pada sebuah pertanyaan: bagaimana membuat kamera kita menjadi the best?
yaitu dengan ..
- Optimalkan gear yg sudah dimiliki, seringlah dipakai utk memotret, asah skill dan jangan pernah cepat puas pada satu stream.
- Galilah kreatifitas, dan latihlah sense meliat unseen moment dan ubah menjadi sebuah moment yg percious dan berharga.
- Karena sejatinya adalah : photography tak mengenal batas !
Selamat jepret !
Posted by Ratna Widiarti
[IPC] (SHARE) Posisi Menentukan Prestasi
by mynova on Nov.23, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing, Tips & Trick
Ternyata hal tersebut tidak saja berlaku ketika mau ujian saja (hayoooo ngaku) tapi juga berlaku di photography.
Backlighting and Strobist with one speedlight only
by Dewa Pramayoga on Oct.01, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing, Tips & Trick
Backlighting and Strobist with one speedlight only
Kadang sumber cahaya selalu kita hindari, matahari, lampu dll..
Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 2)
by aRfian on Aug.28, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing
(copas dari milis)
Oh iya ada tambahan dikit, photo2 yg bagaimana yg bisa dijual?
Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 1)
by aRfian on Aug.28, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing
(copas dari milis)
Serba-Serbi Stock Photo by Leo Lintang
by aRfian on Aug.28, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing
(copas dari milis)
Wah… akhirnya ada thread ini…. saya bahas dikit tentang Micro
yah.. mungkin Bang Priyo bisa bahas tentang Macro kalo gak salah
beliau ikutan alamy
Stock photo itu dibagi dua yaitu macrostock dan microstock
Macrostock –> RM (Right Managed) : Photo kita harganya mahal dan satu
pembeli hanya bisa menyewa 1 foto saat itu juga. Photographer tahu
fotonya dipakai oleh siapa dan dalam jangka waktu berapa lama
Microstock –> RF (Royalty Free) : Photo kita dihargai murah dan satu
foto bisa rame-rame dengan kondisi tertentu, dan biasanya kita gak
tahu siapa yang pake foto kita
Wah kalo gitu untungan Macrostock donk daripada micro?
(continue reading…)
Bersahabat Dengan Cuaca
by priotography on Aug.09, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing, Tips & Trick
Tergelitik oleh pertanyaan bagaimana pengalaman “bertarung” dengan cuaca, bagaimana motret di cuaca yg mendung dll… ijinkan utk share artikel ini.. .tips dan triks gimana caranya kita bisa bersahabat dengan cuaca, terlebih cuaca buruk.
Bagaimana kita “masih” bisa menghasilkan stunning photos walau cuaca jelek, dan cuaca gak mau temenan sama sang fotografer.
Bersahabat dengan Cuaca
TAKING A BEST FROM BAD WEATHER
Sesuai dengan artinya photography, is a matter of how to paint with light. Again .. light.
So, muncul pertanyaan… jika tidak ada cahaya.. tentu kita ndak bisa melukis dengan cahaya. Ibarat pelukis gak punya kuas dan cat buat ngelukis.
Lalu gimana jika light yg ada tidak cukup utk membuat photo yg bagus? Dalam bayangan kita, photo yg bagus adalah saat siang hari dengan matahari yg ramah, the blue sky dengan awan yg gemuk berarak dengan warna hijau pepohonan serta rumput yg bergoyang, bersama bunga2 liar kuning. Tanpa komando, kita akan bilang…. “that would be a great great photo !”

Lalu bagaimana jika kondisi ideal itu tidak tercapai? Pulang dan kembali lagi next time? or try to transform the weather become our “friend” to make an unique wow factor into our frame?
Cuaca yg buruk, bisa kita jadikan media latihan – atau mungkin kita sebut sbg, Tantangan – utk bisa teteup bisa menghasilkan photo bagus. Tantangan tsb apa ajah?
Panorama Photography (part 2)
by priotography on Jul.22, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing
Lanjutan dari part 1 nya yg ada di sini
yuk kita lanjutkan diskusi foto-memfoto kita….

Panorama Photography (part 1)
by priotography on Jul.22, 2010, under Ilmu Fotografi, sharing
Untuk menjawab pertanyaan temen2 IPC ttg panorama, kebetulan artikel ini udah disiapkan dulu sebelumnya dan semoga dengan artikel ini bisa menjawab -walau sedikit- ttg bagaimana motret panorama yg baik, termasuk di antaranya… tips dan triks juga how to nya.






Terima kasih sudah berkunjung! Silahkan berdiskusi dengan meninggalkan komentar, dan dapatkan berita terbaru dengan berlangganan