Category Archives: Sharing

Ikastara Photography Community goes to SMA Taruna Nusantara

Perjalanan Ikastara Photography Community (IPC) kali ini terasa spesial dengan menyambangi kampung halaman mereka,

kampus SMA Taruna Nusantara di kota Magelang, Jawa Tengah, pada hari Sabtu & Minggu, 17-18 Desember 2011.


Selain untuk bernostalgia, IPC juga mempunyai misi mulia dalam rangka program ”Bakti Alumni Untuk TN” yang bekerjasama dengan Divisi Kekerabatan PP Ikastara, dengan menyelenggarakan workshop untuk para pamong Humas & siswa SMATN bertajuk ”Fotografi Itu Mudah & Menyenangkan”, kompetisi foto dan sesi foto bersama para siswa, di bawah koordinasi Valentina Widyawati, TN15, sebagai ketua panitia.

 


Workshop ini diadakan di Ruang Baca Perpustakaan dengan dihadiri oleh 50 peserta.
Listya Aderina, TN13, sebagai MC membuka acara pada pukul 09.30 dengan perkenalan dan tebak-tebakan  sebagai icebreaker sambil menunggu peserta lain yang belum hadir.

Yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bebas oleh Prio Adhi Setiawan, TN4, yang khusus datang dari Hamburg, Jerman, untuk menghadiri wokrshop ini.

Read More …

Share

Picture Control Nikon

Karena satu dan lain hal, dan salah satunya makin bertambahnya pemakai Nikon D90 serta atas email japri beberapa kali. Saya ingin share beberapa yg saya ketahui ttg picture control, setting, serta bagaimana kita tune up nya.

Jika term of Picture Control ada di Nikon, bukan berarti feature tsb tidak ada di Canon, walau saya tidak memahami nya dengan dalam, tapi ada di Canon’s User Defined atau skrg dikenal juga sbg Picture Styles. Di Pentax dikenal sbg Picture Mode.
Mungkin utk bisa mempersempit bahasan, saya konsentrasi pembahasan di sini utk Picture Control di Nikon.
_DSC0751.jpg
Nikon D300 + 17-55 f2.8, strobist kiri 1/32 dan kanan 1/64 + piccon Superia.
Tanpa post processing, hanya resizing max 640 pixel

Apa sih Picture Control/Picture Style itu?

Picture Control itu tidak lain dan tidak bukan “hanya”lah setting utk saturasi, sharpness, WB, hingga curve yg bisa kita atur2 kemudian dijadikan semacam “template” yg ditanamkan dalam kamera kita. Adjusting parameter tsb bisa kita lakukan in atau out of camera.

Share

The Best Camera is …

How to get precious moments with any camera you have

by Prio Adhi Setiawan

The best camera is the one that’s with you” (Chase Jarvis)

There is no rules in photography, there is only a good photograph” (Ansel Adams)

"Geschlossen=Closed" taken with iphone, 2011

Pernahkah kita berada dalam suatu kondisi dimana kita merasa bahwa motret itu HARUS dengan lensa tertentu dan HARUS dengan kamera merek tertentu?

Pernah kita merasa photo kita akan meningkat tajam dan bagus serta layak tampil jika hanya dipotret dengan kamera dan kombinasi lensa tertentu?

Atau pernahkah kita begitu tak berdaya nya, begitu merasa orang paling tidak beruntung, ketika meliat suatu pemandangan yg begitu indah, moment yg cantik tapi kita sama sekali tidak memiliki apa-apa utk mengabadikan nya?

Atau pernah kita merasa begitu malas dan hilang motivasi kegiatan photography kita (yg biasanya begitu membara) karena bosan dengan gear yg dimiliki?

Suatu pertanyaan yg kontradiksi sebagai awal pembelajaran kita kali ini. Bahwa ternyata semahal, selengkap apapun koleksi lensa, dan kamera kita, jika momentum tersebut hadir di depan mata kita, ketika suatu view terindah yg pernah kita liat ada di depan kita, dan saat itu kita tidak membawa kamera canggih puluhan megapixel, lensa super mahal dengan bukaan super besar sekalipun… itu semua adalah suatu yg sia-sia belaka. Dan moment itu hanya terekam di memory kita, dan mata yg diberikan Nya lah yg bisa menangkapnya.

"Blue Kassienspitze" taken with Fuji Finepix M603, 2003

Maka tak heran si Chase Jarvis mengeluarkan statement yg sempat heboh kala itu, yaitu “the best camera is the one that’s with you” , kamera terbaik adalah kamera yg bersama mu saat itu, kala itu … di tangan mu !! Karena moment itu tak akan bisa dikreasikan dan datang 2 kali. Walau statemet Jarvis keluar dalam kaitannya dengna buku hasil karyanya ttg mobile photography dan dikaitkan dengna mereka handphone tertentu, tapi fenomena tersebut bisa kita jadikan sebuah pelajaran bahwa… tak perlu kita terlalu membanggakan gear yg kita punya. Atau merasa tanpa gear2 tersebut kita seperti pujangga tanpa pena. Karena sejatinya, pena utk photographer adalah kamera dan kamera tidak menjadi satu2nya “penentu” mutu dan kualitas sebuah karya photo itu baik atau tidak.

Salah satu ujar2 Arbain Rambey yg sempat saya ingat adalah : “penentu mutu dan kualitas photo ada 4: lensa, mutu sensor, post processing dan skill”. Jadi jika kita hanya membanggakan lensa tertentu, itu hanya seperempat dari yg menentukan mutu dan kualitas photo :)  Entah itu hanya sebuah kamera poket, kamera DSLR dengan lensa kit, kamera dari handphone, dari BB dari iphone atau hanya sebuah SLR tua, atau mungkin hanya disposal kamera yg sekali pake buang yg banyak, itu semua pena yg kita bisa manfaatkan utk mengabadikan momen terindah yg tak akan pernah bisa kita jumpai lagi.

"up" taken with Nikon FE2+50mm 1.4 with AGFA APX 100

Photography has no boundary

Tak ada batasan dari photography. Seperti halnya musik, bahasa visual adalah salah satu bahasa yg universal. Dengannya bisa banyak pesan tersampaikan, bahkan sebuah bahasa gambar pun bisa multi-intepertation…Sementara, momentum adalah sesuatu yg tak terduga yg terjadi bisa kapan saja… variantnya adalah waktu.

Lalu bagaimana kita bisa “on the right time and on the right place” sehingga kita bisa mendapatkan precious moment?

- get close with ur camera (whatever it is) and when you have it in hands, use it optimally

"up" taken with Nikon FE2+50mm 1.4 with AGFA APX 100

Kadang kita tentu tak bisa selalu memegang kamera kemana-mana, terlepas dari dimensi dan fungsinya, kadang di occasional tertentu kita terbatasi oleh kondisi dan lokasi. Tapi teknologi juga sudah berkembang sedemikian pesatnya sehingga sebuah alat utk merekam sebuah gambar menjadi sangat mudah kita temukan dan berharga tak lagi semahal era dahulu. Kamera poket 5 mpixel “hampir” sebesar setipis dan sebesar kartu kredit sangat mudah kita temui dimana-mana. Atau bahkan dengan kamera di handphone kita yg selalu tak pernah lepas dari saku kita, bisa kita manfaatkan utk berkarya.

Tahukah Anda, pemenang juara ke 3 dalam “Picture of the Year” adalah sebuah photo oleh Damon Winter berjudul “The Grunt’s Life” yg diambil dari sebuah kamera iphone ?

Seorang photojurnalis dari koran New York Times, yg meliput kegiatan tentara amerika dalam sebuah operasi militer melawan Taliban. Walau kemudian photo tersebut mengalami diskusi yg cukup panjang dalam kaitan peraturan lomba, tapi photo tersebut cukup membawa sebuah mindset baru, sebuah perspektif baru dalam dunia photography. Seolah membenarkan statement dari Chase Jarvis.

Hikmah dari coret-coretan ini di atas adalah  berujung pada sebuah pertanyaan: bagaimana membuat kamera kita menjadi the best?

yaitu dengan ..

  • Optimalkan gear yg sudah dimiliki, seringlah dipakai utk memotret, asah skill dan jangan pernah cepat puas pada satu stream.
  • Galilah kreatifitas, dan latihlah sense meliat unseen moment dan ubah menjadi sebuah moment yg percious dan berharga.
  • Karena sejatinya adalah : photography tak mengenal batas !

"Geschlossen=Closed" taken with iphone, 2011

Selamat jepret !

Posted by Ratna Widiarti

Share

[IPC] (SHARE) Posisi Menentukan Prestasi

Ternyata hal tersebut tidak saja berlaku ketika mau ujian saja (hayoooo ngaku) tapi juga berlaku di photography.

Posisi menentukan angle dan best composition yg bisa kita abadikan. Walau yg di abadikan adalah benda dan objek yg sama, tapi posisi yg tepat dan ditunjang waktu yg tepat akan membuat dimensi dan mood yg berbeda di foto yg kita abadikan..
Sharing ini ingin menunjukan apa yg dimaksud dengan “posisi menentukan prestasi”. Mana yg terbaik dan mana yg enak secara komposisi kita nikmati tentu berbeda tergantung dari definisi keindahan itu sendiri..
Tapi hikmah dari pelajaran ini adalah, utk mendapatkan the great masterpiece photo, it not a matter of gear and how we execute.. it’s also a matter of process.
You’re very lucky jika dalam a single shot langsung dapat foto yg paling bagus.
So, keep explore, keep hunting, buat riset posisi di mana yg paling tepat utk angle yg paling ok..
PART 1 : HAMBURG PANORAMA,
Share

Backlighting and Strobist with one speedlight only

Backlighting and Strobist with one speedlight only

(a teaser to go further in “Strobist with One Speedlight”)
by Prio Adhi Setiawan

Kadang sumber cahaya selalu kita hindari, matahari, lampu dll..

Konon katanya pamali kalau motret menantang matahari… “Nanti gelap semua”, “nanti filmnya kebakar” dll…
Matahari jika kita pintar memanfaatkan dan menempatkannya akan memperkuat POI yg ingin kita photo…
Contoh sederhana, jika suka motret nature, bunga dsbnya.. menggunakan matahari sore dan menempatkan jatuhnya matahari di belakang.. akan menguatkan shape dan garis2 kuat daun dan bunga.
31311_389666154142_693899142_4028134_6930996_n.jpg

Lalu bagaimana jika ingin motret tapi harus menantang matahari di siang terik dan bolong pula? ;)
Manfaatkan spot metering… dan ukur dengan seksama ke daerah yg benar2 kritis utk di meter… Misal ke daerah paling gelap… Lalu manfaatkan matahari yg letaknya di belakang POI dengan merefleksikan nya ke depan dan muka POI.
Kurang kuat…? Gunakan Blitz.. dan jadikan dia sebagai cahaya fill-in mengisi daerah2 yg gelap tsb.
Contoh pada foto dibawah ini. Foto ini dibuat hari sabtu-minggu kemarin (5-6 Juni) saat kita mengadakan acara “Photographers Meet Hamburg”, yg datang peserta hingga 50-60 orang dari kota2 di Jerman dan Belanda, Swiss dan Swedia.
Kondisi setting tempat, saat itu matahari ada di belakang atas kanan…. Tanpa Blitz tentu tidak ada yg “mengisi” shadow di muka2 para peserta “Photographers Meet Hamburg” (PSM) tsb.
Share

Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 2)

(copas dari milis)

Oh iya ada tambahan dikit, photo2 yg bagaimana yg bisa dijual?

Tentu kita perlu analysis pasar dari kebutuhan si calon pembeli photo kita. Utk kebutuhan web designer, publisher media2 cetak dsbnya… banyak hal yg perlu kita kategori kan (liat tips dan triks di bawah utk “pemilihan kategori dan keywording”
1. Business and lifestyle image
- photo orang salaman,
- grup orang saat meeting
- orang memegang tas koper
dsbnya.. menjadi photo2 yg menjadi incaran para calon buyer di kategori ini. Jas, dasi, payung, tas kerja, juga lifestyle orang2 kantoran juga jadi penting..
Share

Serba-Serbi Stock Photo by Prio Adhi Setiawan (part 1)

(copas dari milis)

Ok ttg Stock photo. Dan sedikit banyak sudah dibahas oleh Leo,..
Tapi ada beberapa tambahan mungkin yg bisa dijadikan referensi. Kita coba ulas dikit, dari definisi, sampe what sells and what does not from stock, hingga tips dan trik how to make sure that our pictures win to make dolars from cents.
Dibanding Leo, saya termasuk pasif di dunia microstock (sempat kita ngobrol2 buat majuin stock indonesia di web yg dibangun Leo), dan lebih berkonsentrasi di macrostock. menengok ke belakang, tapi saya punya gallery di Alamy dan di Fotolia, yg seperti Leo, menjadi penghasilan pasif. Berbeda dengan macrostock yg sekali “ketangkap” bisa beratus2 euro (hingga mungkin ribuan), microstock photo bisa kita bangun dengan rajin upload, controlling quality photo utk di upload, dan menjaring banyak orang utk tahu photo kita dan membeli microphoto kita. Tapi gimana caranya…?
Share

Serba-Serbi Stock Photo by Leo Lintang

(copas dari milis)

Wah… akhirnya ada thread ini…. saya bahas dikit tentang Micro
yah..

mungkin Bang Priyo bisa bahas tentang Macro kalo gak salah
beliau ikutan alamy

Stock photo itu dibagi dua yaitu macrostock dan microstock
Macrostock –> RM (Right Managed) : Photo kita harganya mahal dan satu
pembeli hanya bisa menyewa 1 foto saat itu juga. Photographer tahu
fotonya dipakai oleh siapa dan dalam jangka waktu berapa lama

Microstock –> RF (Royalty Free) : Photo kita dihargai murah dan satu
foto bisa rame-rame dengan kondisi tertentu, dan biasanya kita gak
tahu siapa yang pake foto kita

Wah kalo gitu untungan Macrostock donk daripada micro?
Read More …

Share

Bersahabat Dengan Cuaca

Tergelitik oleh pertanyaan bagaimana pengalaman “bertarung” dengan cuaca, bagaimana motret di cuaca yg mendung dll… ijinkan utk share artikel ini.. .tips dan triks gimana caranya kita bisa bersahabat dengan cuaca, terlebih cuaca buruk.

Bagaimana kita “masih” bisa menghasilkan stunning photos walau cuaca jelek, dan cuaca gak mau temenan sama sang fotografer.

Bersahabat dengan Cuaca

TAKING A BEST FROM BAD WEATHER

Sesuai dengan artinya photography, is a matter of how to paint with light. Again .. light.

So, muncul pertanyaan… jika tidak ada cahaya.. tentu kita ndak bisa melukis dengan cahaya. Ibarat pelukis gak punya kuas dan cat buat ngelukis.

Lalu gimana jika light yg ada tidak cukup utk membuat photo yg bagus? Dalam bayangan kita, photo yg bagus adalah saat siang hari dengan matahari yg ramah, the blue sky dengan awan yg gemuk berarak dengan warna hijau pepohonan serta rumput yg bergoyang, bersama bunga2 liar kuning. Tanpa komando, kita akan bilang…. “that would be a great great photo !”

2491840504_82e0c2b74e_m.jpg

Lalu bagaimana jika kondisi ideal itu tidak tercapai? Pulang dan kembali lagi next time? or try to transform the weather become our “friend” to make an unique wow factor into our frame?

Cuaca yg buruk, bisa kita jadikan media latihan – atau mungkin kita sebut sbg, Tantangan – utk bisa teteup bisa menghasilkan photo bagus. Tantangan tsb apa ajah?

Read More …

Share

Panorama Photography (part 2)

Lanjutan dari part 1 nya yg ada di sini
yuk kita lanjutkan diskusi foto-memfoto kita….

Panorama Photography (2)
by Prio Adhi Setiawan
2791524558_827d4b375b_z.jpg?zz=1
Figure 2.1 Speicherstadt panorama, Hamburg. Stitching from 6-7 frames
Setelah artikel sebelumnya sedikit nyerempet apa itu panorama dan beberapa karakter dengan gear2 tertentu serta angle of view dengan focal length tertentu, kali ini kita ngebahas dikit ttg gimana how to nya.
Kita mulai dari beberapa point dan keyword di edisi sebelumnya yg di sini
1. Angle of View
- Di photo panorama yg diciptakan dengan stiching beberapa frame photo, photographer menentukan seberapa wide angle of view yg mo diciptakan yg berkaitan erat dengan akan se berapa banyak akan masuk dalam frame.
- Ciptakan angle of view yg mampu attracting people to view more in detail.
- Mengangkat sebuah POI dalam frame panorama, makin banyak hal2 yg menarik yg bisa diikutsertakan, contoh dalam photo di atas, POI utama yg diletakan ditengah adalah sebuah bangunan tua yg diframing dengan kerangka jembatan yg diambil full wide dengan menggabungkan beberapa photo format horizontal (6-7 frames)
Share