Tag Archives: Astrophotography

(Astrophotography) Crescent moon and earthshine

Mempraktekkan teorinya Bang Hanud: ISO xxx speed xxx (sayang f/11 nya ga bisa dicapai karena pakai teropong). Kebetulan kemarin sore langit sempat cerah sebentar.

Foto bulan sabit:

Waxing crescent moon

Lessons learned: Untuk menghasilkan gambar yang tajam dan menonjolkan kawah2 bulan tak cukup punya lensa tele yang panjang dan tripod yang stabil. Faktor udara sangat menentukan.

Kalau atmosfer sedang tidak mau diajak kerjasama, the focus is “jumpy” at the best; at the worst bisa ga dapat fokus sama sekali. Plus berhubung “balcony observatory” masih tutup akibat tertimbun salju 5 cm, terpaksa pindah ke “bedroom observatory” or in plain English: mengintip ke luar jendela :D Akibatnya pertemuan udara hangat dari dalam kamar dengan udara dingin di luar menyebabkan ekstra turbulen, dan semakin mempersulit fokus. Gambar di atas sudah diolah dengan unsharp masking di photoshop. Sila dikomen dan dibantai, apakah OK, overprocessed, noisy, etc.

Satu lagi fenomena yang menarik untuk difoto, earthshine:

Earthshine

Bagian bulan yang tidak terkena sinar matahari ternyata masih ter-iluminasi oleh cahaya matahari yang dipantulkan oleh bumi. Sedikit long exposure (1-2 detik) bisa memunculkan daerah ini.

Oh ya, feature mirror lock-up sangat terasa manfaatnya di sini. Ketika mirror terangkat dan berbenturan dengan body kamera, terjadi getaran yang merambat ke teropong/lensa. Waktu yang diperlukan sampai getaran ini hilang hampir sama dengan waktu exposure (~1 detik). Akibatnya gambar menjadi goyang. Dengan mirror lock-up, pencetan tombol yang pertama hanya mengangkat mirror tanpa membuka shutter. Tunggu beberapa saat sampai stabil, baru kemudian pencet tombol sekali lagi untuk membuka shutter. Kalau pakai remote shutter lebih baik lagi karena jadi tidak perlu menyentuh body kamera.

by: Eriza Hafid Fazli

Share